SAAT meninggalkan kampung halamannya, Tompi, 27 tahun, tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi profesional. Satu-satunya alasan pria bernama asli Teuku Adifitrian itu meninggalkan Aceh adalah untuk menjadi dokter. Tahun 1997, Tompi diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Persentuhan dengan musik menghampirinya tak lama setelah kuliah. "Awalnya iseng, menggantikan teman yang jadi vokalis di festival band kampus," ujar pria kelahiran Lhokseumawe, 22 September 1978, ini kepada Alfian dari Gatra.
Ternyata pengalaman itu membuat minat Tompi menjadi penyanyi tumbuh. Dia mulai sering nongkrong di kafe buat mendengarkan penyanyi lain tampil. Kemudian ia membentuk band sendiri dan sempat tampil di beberapa kafe Jakarta. Pada 2002, Tompi direkrut menjadi vokalis Cherokee, yang membawanya tampil di banyak kota, termasuk Singapura. "Ternyata apreasiasi orang bagus juga, jadi kami seriusin aja," kata Tompi.
Bagaimana dengan kuliah? Ternyata semua berjalan lancar. Saat bergabung dengan Cherokee, Tompi sedang dalam tahap-tahap akhir kuliah. "Kalau siang di klinik RSCM. Malamnya, kalau tak ada tugas jaga, nyanyi," katanya. Tahun 2003, dia pun berhasil meraih gelar dokter. Sementara di jalur musik, nama Tompi makin dikenal setelah bergabung dengan kelompok jazz Bali Lounge. Ia kini menempuh kuliah Program Spesialis Bedah Plastik di FKUI. Bedah plastik dan menyanyi, menurut dia, memiliki banyak kesamaan. "Punya cita rasa seni yang tinggi," ujarnya.
|